MURJI’AH SUNNAH

Mereka adalah para pengikut Imam Abu Hanifah. Sebagian ahli hadis mengelompokan para pengikut Imam Abu Hanifah ke dalam kelompok Murji’ah sunnah, sebagaimana tidak sedikit dari para penulis yang mengatakan, Imam Abu Hanifah termasuk tokoh Murji’ah. Hal ini mungkin disebabkan pendapat Imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan iman adalah Tashdiq bil Qalbi (membenarkan dengan hati saja). Iman, menurutnya , tidak dapat bertambah maupun berkurang. Dari sinilah, para penulis menyangka Imam Abu Hanifah telah menempatkan perbuatan pada urutan kedua setelah niat.

Pengelompokan Imam Abu Hanifah ke dalam kelompok Murji’ah mungkin juga disebabkan karena beliau memiliki pendapat yang berbeda dengan kelompok Qodariyyah dan Mu’tazilah dalam masalah qadar (takdir) Allah SWT. Saat itu kelompok Mu’tazilah menyebut orang yang tidak sependapat dengannya dalam masalah qadar sebagai orang Murji’ah. demikian pula yang dilakukan oleh sekte Wa’idiyyah, sebuah sekte dalam klompok Khawarij. Dari sini, sangatlah mungkin jika julukan yang diberikan kepada Imam Abu Hanifah sebagai seorang tokoh Murji’ah berasal dari kedua kelompok tersebut, yakni kelompok Mu’tazilah dan Khawarij.

Pada umumnya yang disebut dengan Irja’ menurut pengertian bahasa adalah ta’khir (mengakhirkan). oleh karena itu, jika dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah adalah seorang tokoh Murji’ah, maka maksudnya adalah bahwa ia telah menjadikan derajat amal berada di bawah derajat niat. Dengan pemahaman semacam itu, maka tidaklah salah jika dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah termasuk seorang pengikut Murji’ah.

Dalam ilmu kalam, dikenal bahwa kelompok Murji’ah terbagi menjadi empat kelompok, yaitu: Murji’ah Qadariyyah, Murji’ah Jabariyyah, Murji’ah Khawarij, dan Murji’ah Khalisah. Adapun definisi iman yang dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah sebagai berikut:”Iman adalah membenarkan semua yang dibawa oleh Nabi SAW, yaitu membenarkannya secara terperinci terhadap hal-hal yang diketahui secara terperinci dan membenarkannya secara global terhadap hal-hal yang diketahui secara global.” Menurut Abu Hanifah, iqrar (pengakuan dengan lisan) dan melakukan amal-amal shalih bukan merupakan bagian dari hakekat iman. oleh karena itu, keimanan seseorang tidak dapat bertambah ataupun berkurang. sebab, jika pembenaran yang dilakukan oleh hati ini berkurang, maka ia tidak dapat lagi disebut sebagai iman, tetapi disebut dengan keragu-raguan atau ketidak tahuan.

Dari definisi iman yang dikemukakan Iman Abu Hanifah tersebut, dapat diketahui bahwa Imam Abu Hanifah tidak mau memastikan bahwa orang yang telah melakukan dosa besar akan disiksa di akhirat nanti. Abu Hanifah hanya menyerahkan urusan pembalasan tersebut kepada Allah SWT. Jika dia menghendaki, maka Dia akan menyiksanya dan jika dia menghendaki maka Dia akan mengampuninya, sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an,”Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang maha perkasa lagi maha bijaksana,”(Al Ma’idah:118)

Paham yang dikemukakan Abu Hanifah ini disebut Irja’ oleh kelompok Wa’idiyyah, karena mereka berkata,”Kita meyakini bahwa Allah SWT-lah yang akan menentukan siksaan bagi orang-orang mukmin yang telah berbuat dosa.” Dari sinilah, para pengikut kelompok Wa’idiyyah mengkategorikan Abu Hanifah sebagai seorang pengikut kelompok Murji’ah, karena abu hanifah dianggap telah menunda penetapan status keimanan bagi orang-orang mukmin yang telah berbuat dosa hingga datangnya hari kiamat nanti, dimana saat itulah Allah SWT akan memberikan hukuman kepada mereka sesuai dengan kehendak-Nya.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Irja’ yang dituduhkan kepada Abu Hanifah bukan dalam pengertian terminologis seperti yang dikenal oleh para Ahli Ilmu Kalam, tetapi hanya dalam pengertian etimologis saja, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa Abu Hanifah adalah seorang pengikut kelompok Murji’ah.

Dikutip dari kitab Ensiklopedia, Golongan, kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, DR. Abdullah Mun’im Al-Hafni, hal:811-814, Cet,1, Penerbit Grafindo Khazanah Ilmu, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: