MAQOSID SYARIAH

Islam dengan segala kesempurnaan aturannya bertujuan menjadi satu-satunya agama samawi yang dapat menjawab segala tantangan problematika yang dihadapi manusia dari zaman ke zaman, sehingga sudah merupakan kewajiban manusia itu sendiri untuk mengaplikasikan apa yang telah Allah SWT syareatkan melalui para Rosulnya sehingga terlahirlah sebuah aturan baku dari Allah SWT dalam kitabnya Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pengatur seluruh kehidupan manusia di muka bumi ini.

Namun dikarenakan beralihnya zaman dari masa ke masa, sehingga masalah keagamaan dalam berbagai aspeknya mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang semuanya menuntut untuk diselesaikan dan diselaraskan dengan pedoman baku syareat itu sendiri, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, maka pada kondisi seperti ini dibutuhkan suatu Ilmu yang dapat digunakan untuk mengaktualisasikan Al Qur’an dan As Sunnah demi kemaslahatan manusia secara umum menuju sesuatu yang diingini syareat. Dan inilah yang dimaksud dengan Maqasid Syariah.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa maqasid syariah adalah suatu ilmu alat dalam islam untuk mengaktualisasikan syareat sehingga tercapailah kemaslahatan bagi seluruh umat manusia

Akan tetapi yang disayangkan pada zaman ini, banyak sekali dari kalangan intelektual muslim liberal yang nota benenya kebanyakan dari mereka belajar islam dari filosofi barat justru menggunakan label maqosid syariah sebagai alat untuk merumuskan suatu hal yang batil dalam islam dengan dalih yang sama yaitu demi kemaslahatan manusia dan keadian sesama manusia.

Melihat data empiris yang ada maka sudah menjadi kewajiban kita bersama selaku umat islam untuk meluruskan paradigma miring kaum liberal dalam memahami maqasid syariah. Agar umat islam tidak bingung oleh penyelewengan agama beratas namakan islam sebagaimana yang saat ini telah berkembang di universitas-universitas islam terkhusus di Indonesia ini.

Sedangkan dalam merumuskan suatu masalah dalam islam, maqasid syariah tidak dapat terealisasi dengan baik dan aktual manakala tidak ditopang dengan pokok-pokok bahasan yang dapat disatukan menjadi suatu kesatuan utuh, sehingga dengannya dapat menelurkan suatu gagasan yang ingin dicapai oleh  syariat itu sendiri.

Salah satu pembahasan pokoknya adalah dengan melihat Ruh Tasyri atau latar belakang dalam setiap syariat yang telah Allah berlakukan kepada manusia selaku pelaksana syariat itu sendiri. Karena dengan mengerti ruh tasyri dalam setiap syariat kita akan mengerti apa hikmah yang dapat kita ambil dari disyariatkannya suatu masalah tersebut. Misalnya mengenai syariat sholat lima waktu dengan berbagai teknis pelaksanaannya yang wajib dilaksanakan oleh mukalaf, maka ketika nalar manusia yang tidak mampu menyibak Masholihul Ibad (kemaslahatan humanisme) yang nampak secara indra manusia dibalik disyariatkannya sholat kepadanya baik dari segi keuntungan duniawi maupun yang lain, terlepas dari pada itu semua, sholat tersebut masih wajib dilaksanakan oleh mukalaf  tanpa adanya upaya penolakan atas dasar kepentingan manusia, manakala sholat itu dianggap sebagai penghalang kepentingannya yang bersifat duniawi semata maupun dengan alasan ukhrawi.

Selain Ruh Tasyri, maqasid syariah juga membutuhkan pembahasan mengenai Illat (penyebab ditetapkanya suatu hukum syari) dan Qiyas (penghubung status hukum baru) yang keduanya saling berhubungan erat dalam menentukan suatu hukum syar’i. Misalnya syareat pengharaman khomr adalah sesuai dengan illatnya yaitu memabukan, sehingga dapat diqiyaskan dengan narkoba dengan berbagai fariannya yang sama-sama mempunyai efek memabukan. Sehingga dengan menghubungkan antara Illat dan Qiyas dapat disimpulkan bahwa narkoba dalam konteks hari ini adalah haram hukumnya diselaraskan dengan hukum khomr yang intinya adalah memabukan.

Pokok bahasan lainnya dari maqasid syariah adalah berkenaan dengan Tahqiqul Manath atau bisa disebut juga penentuan sikap antara melaksanakan menagguhkan (pending) sejenak tanpa adanya penolakan atau penghapusan suatu hukum syar’i, berdasarkan pertimbangan Jalbul Masholih wa Dar’ul Mafasid (mendatangkan kemaslahatan dan menanggulangi kerusakan) maka dalam konteks Tahqiqul Manath harus dipertimbangkan secara matang mana yang hendaknya didahulukan antara mendatangkan kemaslahatan atau menanggulangi kerusakan. Misalnya mengenai masalah berjihad qital di Indonesia hari ini yang identik dengan aksi-aksi isytisyhadiyah (bom bunuh diri) yang berujung pada polemik kontroversial baik dikalangan ulama islam sendiri maupun masyarakat awam yang setiap harinya dihadapkan dengan propaganda-propaganda media musuh islam, sehingga lewat itu semua mereka menyuarakan kepada umat, bahwa berbagai aksi “mujahidin” di Indonesia saat ini sebagai aksi terorisme berimbas negative pada islam yang tidak kunjung usai fitnahnya dan ini akan terus berkelanjutan apabila tidak diantisipasi berkenaan tentang teknis pelaksanaannya, hal ini terjadi dikarenakan minimnya pegetahuan umat akan persepsi jihad itu sendiri, sehingga asumsi yang berkembang di masyarakat mengenai jihad hari ini adalah berkonotasi negatif yang tidak senada dengan humanisme dan keadilan serta tidak menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan sebagaimana yang berlaku di Indonesia saat ini. Maka dari itu berdasarkan tinjauan maqosid syariah dalam konteks tahqiqul manath menyimpulkan untuk menunda aksi-aksi tersebut sejenak, sebagai upaya persiapan pemulihan kelayakan dan ketepatan dalam menjalankan syariat jihad yang satu ini, dengan mempertimbangkan kemaslahatan dan penaggulangan kerusakan (fitnah) yang lebih besar dikarenakan teknis yang kurang tepat, perlu diperhatikan dalam bahasan ini tidak berniat untuk menolak pelaksanaan syariat jihad itu sendiri bahkan jikalau ada yang memutuskan untuk tetap menjalankan aksi tersebutpun tidak bisa disalahkan seutuhnya karena pada dasarnya jihad adalah salah satu syareat yang paling mulia disisi Allah SWT, hanya saja teknisnya yang mungkin perlu dievaluasi demi menghasilkan kemaslahatan yang lebih besar dari sekedar melenyapkan kerusakan yang ada di muka bumi ini saja.

Dari pemaparan di atas mengenai berbagai aspek pokok bahasan maqosid syariah yang terdiri dari ruh tasyri’, hikmah, illat, qiyas, masholihul ibad, jalbul masholih wa dar’ul mafasid dan tahqiqul manath dengan mempertimbangkan dhoruriatul khomsah yang mencakup didalamnya dien, nafs, aql, nasl dan maal (agama, jiwa, akal, keturunan dan harta). Maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan masalah kontemporer dalam islam saat ini dan yang akan datang akan terjawab oleh jawaban yang bernafaskan maqosid syariah. Wallahu A’lam bi Showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: