ATHA’ BIN ABI RABAH

“Saya tidak melihat orang yang mencari ilmu karena Allah swt, kecuali tiga orang yakni:
‘Atha’,Thawus,dan Mujahid.” (Salamah bin Kuhail)

Kita sekarang memasuki sepuluh hari terakhir bulan Dzul Hijjah tahun 97 H. Dan rumah tua (Ka’bah) ini disesaki oleh tamu-tamu Allah swt dari segala penjuru; para pejalan kaki dan para pengendara,Tua dan muda, Laki-laki dan perempuan, berkulit hitam dan putih; orang arab dan non Arab serta tuan dan ada yang dipertuan alias rakyat. Mereka semua telah datang menghadap Raja manusia dengan khusyu’ seraya bertalbiyah dan mengharapkan pahala Allah swt.

Tersebutlah, Sulaiman bin Abdul Malik, seorang Khalifah kaum muslimin dan salah seorang raja agung yang pernah bertahta di muka bumi sedang berthawaf di sekeliling Ka’bah dengan kepala terbuka dan bertelanjang kaki. Dia hanya mengenakan kain sarung dan selendang. Kondisinya kala itu sama seperti saudara-saudaranya fillah yang menjadi rakyat jelata. Sementara di belakangnya ada dua orang putranya,[1] keduanya adalah anak muda yang keceriaan wajahnya bagaikan bulan purnama dan wangi dan kilauannya ibarat bunga yang sedang mekar. Begitu khalifah menyelesaikan thawafnya, beliau menengok ke arah salah seorang pengawalnya sembari berkata, “Di mana sahabatmu?” Orang itu menjawab, “Dia di sana sedang shalat,” Sambil menunjuk ke pojok Barat Masjid Al-Haram. Lalu Khalifah dengan diikuti kedua putranya menuju tempat yang ditunjuk oleh pengawal tersebut.

Para pengawal pribadinya ingin mengikuti khalifah guna melebarkan jalan dan melindunginya dari suasana berdesak-desakan.Akan tetapi Khalifah melarang mereka melakukan hal itu sembari berkata, “Para raja dan rakyat jelata sama kedudukannya di tempat ini.Tidak seorang pun yang lebih mulia dari orang lain, kecuali berdasarkan penerimaan (terhadap amalnya) dan ketakwaan. Boleh jadi ada orang yang kusut dan lusuh berdebu datang kepada Allah, lalu Allah menerima ibadahnya dan pada saat yang sama, para raja tidak diterima oleh-Nya.[2]

Kemudian Khalifah berjalan menuju orang tersebut, lalu dia mendapatinya masih melaksanakan shalat, khusyu’ di dalam ruku’dan sujudnya. Sedangkan orang-orang duduk di belakang, dan di sebelah kanan kirinya,lalu Khalifah duduk di barisan paling belakang dari majlis tersebut dan mendudukkan kedua anaknya di situ.[3]

Mulailah dua anak muda Quraisy ini mengamati laki-laki yang dituju Amirul mu’minin (bapak mereka) dan duduk bersama orang-orang awam lainnya; menunggunya hingga selesai dari shalatnya.

Ketika orang itu telah selesai dari shalatnya, dia menoleh ke arah dimana Khalifah berada. Lalu Sulaiman bin Abdul Malik, sang khalifah memberi salam dan orang itu membalasnya.

Saat itulah Khalifah menyongsongnya dan bertanya tentang manasik haji, dari satu hal ke hal lainnya, dan orang itu menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang rinci sehingga tidak memberikan kesempatan lagi bagi si penanya untuk bertanya lagi. Dan dia juga menisbahkan setiap perkataan yang diucapkannya kepada sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam.

Ketika Khalifah telah selesai mengajukan pertanyaannya, beliau mengucapkan, “Mudah-mudahan Allah membalas anda dengan kebaikan,” dan beliau berkata kepada kedua putranya, “Berdirilah,” lalu keduanya berdiri. Kemudian mereka bertiga beranjak menuju tempat sa’i. Ketika mereka bertiga di pertengahan jalan menuju tempat sa’i, antara Shafa dan Marwa, kedua anak muda itu mendengar ada orang-orang yang berseru, “Wahai kaum muslimin, siapapun tidak boleh memberi fatwa kepada orang-orang di tempat ini, kecuali ‘Atha’bin Abi Rabah. Dan jika dia tidak ada, maka Abdullah bin Abi Najih”.[4] Maka salah satu dari kedua anak muda itu menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Bagaimana mungkin pegawai Amirul mu’minin bisa menyuruh orang-orang supaya tidak meminta fatwa kepada siapapun selain kepada ‘Atha’bin Abi Rabah dan sahabatnya kemudian kita telah datang meminta fatwa kepada orang ini? seorang yang tidak peduli terhadap kehadiran Khalifah dan tidak memberikan penghormatan yang layak terhadapnya?”

Maka Sulaiman berkata kepada putranya, “Orang yang telah kamu lihat -wahai anakku-dan yang kamu lihat kita tunduk di depannya inilah ‘Atha’bin Abi Rabah, pemilik fatwa di Masjid Haram dan pewaris Abdullah bin Abbas di dalam kedudukan yang besar ini.” Kemudian Khalifah melanjutkan perkataannya, “Wahai anakku, tuntutlah ilmu, karena dengan ilmu orang rendah akan menjadi mulia, orang yang bodoh akan menjadi pintar dan budak-budak akan melebihi derajat raja.”[5]

I. Nama, kelahiran dan sifat-sifatnya

Beliau adalah imam syaikhul islam, pemilik fatwa di masjidil haram, nama lain beliau Abu Muhammad Al Qurasyi, seorang  mantan budak di mekah, diceritakan bahwa: Atha’ adalah mantan budak  bani jumah, lahir di Al Janad –suatu negri terkenal di yaman, dari sana bermunculan banyak ulama’, jarak antara Al Janad dan son’ah sejauh lima puluh delapan farsakh- ia menjalani hidupnya di makah, tanggal lahirnya bertepatan dengan kekhilafahan Utsman bin Affan radhiallahu anhu.[6]

Ali bin Al Madany berkata: nama Abi Rabah adalah mantan budak seorang wanita bernama Habibah binti Maisharoh bin Abi Khusaim.

Ibnu Sa’ad berkata:”ia bekas budak bani fihr atau bani jumah, penduduk makah menyandarkan fatwa kepadanya dan kepada Mujahid, namun yang terbanyak adalah kepada Atha’, . Aku mendengar sebagian Ahli Ilmu mengatakan: Atha’ adalah lelaki berkulit hitam (negro), ia sosok yang tsiqoh, faqih, ‘Alim dan banyak meriwayatkan hadist”[7]

Dalam riwayat lain di jelaskan bahwa Atha’ adalah seorang tua yang berasal dari Habasyah, berkulit hitam, berambut keriting lebat dan pesek hidungnya. Jika dia duduk tampak bagaikan gagak hitam.[8]

II. Latar Belakang Kehidupannya

‘Atha’ bin Abi Rabah pada masa kecilnya adalah hamba sahaya milik seorang perempuan penduduk Mekkah. Akan tetapi, Allah ‘Azza wa Jalla memuliakan budak Habasya ini, dengan meletakkan kedua kakinya semenjak kecil di jalan ilmu. Dia membagi waktunya menjadi tiga bagian:[9] Satu bagian untuk majikan perempuannya, mengabdi kepadanya dengan sebaik-baik pengabdian dan memberikan hak-haknya dengan sempurna. Dan satu bagian dia jadikan untuk Tuhannya. Waktu ini dia gunakan untuk beribadah dengan sepenuh-penuhnya, sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan satu bagian lagi dia jadikan untuk mencari ilmu. Dia banyak berguru kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam yang masih hidup, dan menyerap ilmu-ilmu mereka yang banyak dan murni.

Ketika Majikan perempuannya melihat bahwa budaknya telah menjual jiwanya kepada Allah dan mewakafkan hidupnya untuk mencari ilmu, maka dia melepaskan haknya terhadap ‘Atha’, kemudian memerdekakannya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Mudah-mudahan Allah menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

Semenjak hari itu, ‘Atha’bin Abi Rabah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat tinggalnya, sebagai rumahnya, tempat dia berteduh dan sebagai sekolah yang didalamnya itu dia belajar, sebagai tempat shalat yang dia bertaqarrub kepada Allah dengan penuh ketakwaan dan keta’atan. Hal ini membuat ahli sejarah berkata, “Masjid Haram menjadi tempat tinggal ‘Atha’bin Abi Rabah kurang lebih dua puluh tahun.”[10]

Ibnu Juraj berkata.”Masjid telah menjadi tempat tidur Atha’ selama dua puluh tahun. Dan dia adalah manusia yang paling baik shalatnya.”[11]

III. Guru – gurunya

Beliau berguru kepada Abu Hurairah, ‘Abdullah bin Umar, ‘Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Az-Zubair dan sahabat-sahabat mulia lainnya radliyallâhu ‘anhum.[12]

IV. Murid – muridnya

Tidak disebutkan secara pasti siapa murid beliau, namun dalam banyak riwayat menuturkan banyak kalangan yang terkagum oleh keagugan ilmu beliau sehingga mereka mengikuti beliau dan memulaikannya.

Diantara yang beliau ajari adalah penduduk mekah dengan fatwa-fatwanya, terutama dalam masalah manasik haji. Bahkan khalifah Sulaiman bin Abdul Malik pun meminta fatwa kepada beliau. Begitupula Amirul Mukminin Hisyam bin Abdul Malik dan masih banyak lagi yang lainnya.

V. Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Dari Ibnu Juraij, dia berkata,”Aku hidup bersama Atha’ selama sepuluh tahun, detelah dia tua kekuatannya melemah. Namun demikian, dia berdiri shalat dengan membaca dua ratus ayat dari surat Al-Baqarah. Dia berdiri tegak tidak bergoyang dan bergerak sama sekali.”[13]

Imam Abu Hanifah An-Nu’man bercerita tentang dirinya. Dia berkata: Aku telah berbuat kesalahan dalam lima bab dari manasik haji di Makkah, lalu tukang cukur mengajariku, yaitu bahwa kalau aku ingin mencukur rambutku supaya aku keluar dari ihram, lalu aku sewaktu hendak cukur, aku berkata, “Dengan bayaran berapa anda mencukur rambutku?” Maka tukang cukur itu menjawab: “Semoga Allah memberi petunjuk kepada Anda.”

Ibadah tidak disyaratkan dengan bayaran, duduklah dan berikan sekedar kerelaan. “Maka aku merasa malu dan aku duduk, namun aku duduk dalam keadaan berpaling dari arah kiblat. Lalu tukang cukur itu menoleh ke arahku supaya aku menghadap kiblat, dan aku menurutinya, dan aku semakin grogi. Kemudian aku menyilakannya supaya dia mencukur kepalaku sebelah kiri, tetapi dia berkata, “Berikan bagian kanan kepala Anda, lalu aku berputar. Dan mulailah dia mencukur kepalaku, sedangkan aku terdiam sambil melihatnya dan merasa kagum kepadanya. Lalu dia berkata kepadaku, “Kenapa Anda diam? Bertakbirlah.” Lalu aku bertakbir, sehingga aku berdiri untuk siap-siap pergi. Lalu dia berkata: “Ke mana Anda akan pergi?” Maka aku menjawab, “Aku akan menuju kendaraanku.” Lalu dia berkata, “Shalatlah dua rakaat, kemudian pergilah kemana Anda suka.” Lalu aku shalat dua rakaat dan aku berkata di dalam hati, “Seorang tukang cukur tidak akan berbuat seperti ini, kecuali dia adalah orang yang berilmu.” Maka aku berkata kepadanya: “Dari mana Anda dapatkan manasik yang Anda perintahkan kepadaku ini?” Maka dia berkata: “Demi Allah, aku telah melihat ‘Atha’ bin Abi Rabah melakukannya lalu aku mengikutinya dan aku mengarahkan orang lain kepadanya.[14]

Umar bin Dzar berkata,”Saya tidak pernah melihat orang seperti Atha’ bin Abi Rabah. Saya tidak pernah melihat dia memakai gamis, dan saya tidak pernah melihat dia memakai baju dengan harga menyamai lima dirham.”[15]

Muhammad bin Suqah bercerita kepada pengunjungnya, “Maukah kamu mendengar suatu ucapan, barangkali ucapan ini dapat memberi manfaat kepadamu, sebagaimana ia telah memberi manfaat kepadaku?” Mereka berkata, “Baik.” Dia berkata, “Pada suatu hari, ‘Atha’ bin Abi Rabah menasehatiku, Dia berkata, ‘Wahai keponakanku, Sesungguhnya orang-orang sebelum kami dahulu tidak menyukai perkataan yang sia-sia.” Lalu aku berkata, ‘Dan apa perkataan yang sia-sia menurut mereka?” Atha’berkata, ‘Dahulu mereka menganggap setiap perkataan yang bukan membaca atau memahami Kitab Allah ‘Azza wa Jalla sebagai perkataan sia-sia. Demikian pula dengan bukan meriwayatkan dan mengkaji hadits Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wasallam atau menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau ilmu yang dapat membuat kita dekat kepada Allah Ta’ala atau kamu berbicara tentang kebutuhanmu dan ma’isyahmu yang harus dibicarakan. Kemudian dia mengarahkan pandangannya kepadaku dan berkata, Apakah kamu mengingkari?

“Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)” (Al-Infithar: 10)

Dan bersama setiap kamu ada dua malaikat “Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir “(Qaaf,ayat:17-18).

Kemudian dia berkata, “Apakah salah seorang di antara kita tidak malu, jika buku catatannya yang dia penuhi awal siangnya dibuka di depannya, lalu dia menemukannya apa yang tertulis di dalamnya bukan urusan agamanya dan bukan urusan dunianya.”[16]

VI. Kedalaman Ilmunya

Atha’ bin Abi Rabah telah sampai pada derajat agama dan ilmu dengan dua sifat: Pertama: Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas jiwanya. Dia tidak memberikan kesempatan padanya untuk bersenang-senang dengan sesuatu yang tidak berguna.

Kedua: Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas waktunya. Dia tidak membiarkannya hanyut di dalam perkataan dan perbuatan yang melebihi keperluan.[17]

Allah Azza wa Jalla benar-benar menjadikan ilmu ‘Atha’ bin Abi Rabah bermanfaat bagi banyak golongan manusia. Di antara mereka ada orang-orang yang khusus ahli ilmu dan ada orang-orang pekerja dan lain-lainnya[18]

Beliau adalah seorang tabi’in yang mulia ini telah sampai kepada kedudukan yang sangat tinggi di bidang ilmu dan sampai kepada derajat yang tidak dicapai, kecuali oleh beberapa orang semasanya. Telah diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Umar sedang menuju ke Mekkah untuk beribadah umrah. Lalu orang-orang menemuinya untuk bertanya dan meminta fatwa, maka ‘Abdullah bin umar berkata, “Sesungguhnya saya sangat heran kepada kalian, wahai penduduk Makkah, mengapa kamu mengerumuniku untuk menanyakan suatu permasalahan, sedangkan di tengah-tengah kalian sudah ada ‘Atha’ bin Abi Rabah?!”[19]

Di riwayatkan oleh Aslam Al Minqori, dari Abi Ja’far berkata:”Tidak ada di muka bumi ini, seorangpun yang ahli dalam urusan  manasik haji melebihi  Atha”.[20]

VII. Ketawadhu’annya

Dari Atha’ dia berkata,”Seandainya aku diberi amanah untuk mengurus baitul mal, pasti aku bisa menjaganya. Tapi aku tidak bisa menjaga diriku atas umat yang buruk.” Imam Dzahabi berkata:”Dia benar.”Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

ألالايخلون رجل بإمرأة فإن ثالثهماالشيطان

Artinya:”Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan maka yang ketiganya adalah syaitan.”[21]

Para khalifah telah mengundangnya supaya dia menemani mereka. Akan tetapi bukannya dia tidak memenuhi ajakan mereka, karena mengkhawatirkan agamanya daripada dunianya; akan tetapi disamping itu dia datang kepada mereka jika dalam kedatangannya ada manfaat bagi kaum muslimin atau ada kebaikan untuk Islam.

Di antaranya seperti yang diceritakan oleh Utsman bin ‘Atha’ Al-Khurasani, dia berkata, “Aku di dalam suatu perjalanan bersama ayahku, kami ingin berkunjung kepada Hisyam bin Abdul Malik. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus, tiba-tiba kami melihat orang tua di atas Himar hitam, dengan mengenakan baju jelek dan kasar jahitannya.serta memakai jubah lusuh dan berpeci. Tempat duduknya terbuat dari kayu, maka aku tertawakan dia dan aku berkata kepada ayah, “Siapa ini?”

Maka ayah berkata, “Diam, ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz ‘Atha’ bin Abi Rabah.”

Ketika orang itu telah dekat dengan kami, ayah turun dari keledainya. Orang itu juga turun dari himarnya, lalu keduanya berpelukan dan saling menyapa. Kemudian keduanya kembali menaiki kendaraannya, sehingga keduanya berhenti di pintu istana Hisyam bin Abdul Malik. Ketika keduanya telah duduk dengan tenang, keduanya dipersilakan masuk. Ketika ayah telah ke luar, aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku, tentang apa yang Anda berdua lakukan, maka ayah berkata, “Ketika Hisyam mengetahui bahwa ‘Atha’ bin Abi Rabah berada di depan pintu, beliau segera mempersilakannya masuk dan demi Allah swt, aku tidak bisa masuk, kecuali karena sebab dia, dan ketika Hisyam melihatnya, beliau berkata, “Selamat datang, selamat datang. Kemari, kemari,” dan terus beliau berkata kepadanya, “Kemari, kemari,” sehingga beliau mempersilakan duduk bersamanya di atas permadaninya, dan menyentuhkan lututnya dengan lututnya.

Dan di antara orang-orang yang duduk adalah orang-orang besar, dan tadinya mereka berbincang-bincang lalu mereka terdiam. Kemudian Hisyam menghadap kepadanya dan berkata, “Apa keperluan Anda wahai Abu Muhammad?” ‘Atha’ berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, Penduduk Haramain (Makkah dan Madinah) adalah penduduk Allah dan tetangga Rasul-Nya, berikanlah kepada mereka rizki-rizki dan pemberian-pemberian. Maka Hisyam menjawab, “Baik. Wahai ajudan, tulislah untuk penduduk Makkah dan Madinah pemberian-pemberian dan rizki-rizki mereka untuk waktu satu tahun.”

Kemudian Hisyam berkata, “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?” ‘Atha’ berkata, “Ya wahai Amirul mu’minin, penduduk Hijaz dan penduduk Najd adalah inti Arab dan pemuka Islam, maka berikanlah kepada mereka kelebihan sedekah mereka.” Maka Hisyam berkata, “Baik. Wahai ajudan, tulislah, bahwa kelebihan sedekah mereka dikembalikan kepada mereka.”

“Apakah ada keperluan lain selain itu wahai Abu Muhammad?” Dia berkata: “Ya, wahai Amirul mu’minin. Kaum muslimin yang menjaga di perbatasan, mereka berdiri di depan musuh-musuh Anda, dan mereka akan membunuh setiap orang yang berbuat jahat kepada kaum muslimin, maka berikanlah sebagian rizki kepada mereka, karena kalau mereka mati, maka perbatasan akan hilang.”

Maka Hisyam berkata, “Baik. Wahai ajudan, tulislah, supaya dikirim rizki kepada mereka.”

“Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?”

‘Atha’ berkata, “Ya, wahai Amirul mu’minin. Orang-orang kafir dzimmi supaya tidak dibebani dengan apa yang mereka tidak mampu, karena apa yang Anda tarik dari mereka adalah merupakan bantuan untuk Anda atas musuh Anda.”

Maka Hisyam berkata, “Wahai ajudan, tulislah untuk orang-orang kafir dzimmi, supaya mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu.”

“Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?”

‘Atha’ berkata: “Ya, Bertakwalah kepada Allah di dalam diri Anda wahai Amirul mu’minin, dan ketahuilah bahwa Anda diciptakan di dalam keadaan sendiri, dan anda akan mati didalam keadaan sendiri, dan Anda akan dibangkitkan di dalam keadaan sendiri dan Anda akan dihisab dalam keadaan sendiri dan demi Allah tidak seorang pun dari orang yang Anda lihat bersama Anda.”[22]

Maka Hisyam menyungkurkan wajahnya ke tanah dan menangis, lalu ‘Atha’ berdiri dan aku berdiri bersamnya. Dan ketika kami telah sampai ke pintu, ternyata ada seseorang yang mengikuti ‘Atha’ dengan membawa kantong, dan aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya, dan orang itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Amirul mu’minin mengirim ini kepada Anda.” Maka ‘Atha’ berkata, “Maaf aku tidak akan menerima ini.”

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu;upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam “(Asy-Syuara’,ayat:109)

Demi Allah, sesungguhnya ‘Atha’ menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun.[23]

VIII. Wafatnya

Atha’ bin Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga seratus tahun. Umur itu dia penuhi dengan ilmu, amal, kebaikan dan takwa. Dan dia membersihkannya dengan zuhud dari kekayaan yang ada di tangan manusia dan sangat mengharap ganjaran yang ada di sisi Allah.

Ketika dia wafat, dia di dalam keadaan ringan dari beban dunia. Banyak berbekal dengan amal akhirat. Selain itu, dia melakukan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali, beliau melakukan di dalammya 70 kali wukuf di arafah.

Di sana dia memohon kepada Allah keridhaan-Nya dan surga-Nya. Dan memohon perlindungan kepada-Nya dari murka-Nya dan dari neraka-Nya.[24]

IX. Referensi

1.   Siyar A’lamu Nubala’, Cet, VII, Muasasah Ar Risalah Th. 1410 H, Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad Dhahabi.

2.   Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Cet. XV, Daarul Adab al-Islami Th. 1418 H, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Diterjemahkan oleh.

http://vitamindirosat.blogspot.com/2009/05/atha-bin-abi-rabah.html

3.   Rahasia Ibadah Generasi Shalih, Sami bin Muhammad bin Jadillah dan Syaikh Shalahuddin Ali Abdul Maujud, Cet. I, Pustaka Iltizam, solo


[1] Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Hal. 9

[2] Ibid, Hal. 10

[3] Shuwaru min Hayatit Tabi’in,Hal 10

[4] Ibid, Hal.11

[5] Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Hal 12

[6] Siyar A’lamu Nubala’ Juz,5 Hal. 78-79

[7] Ibid, Juz,5 Hal. 80

[8] Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Hal 9

[9] Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Hal. 12

[10] Ibid, Hal. 13-14

[11] Rahasia Ibadah Generasi Shalih, Hal. 133

[12] Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Hal. 13

[13] Rahasia Ibadah Generasi Shalih, Hal. 134

[14] Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Hal. 16-17

[15] Rahasia Ibadah Generasi Shalih, Hal. 135

[16] Shuwaru min Hayatit Tabi’in,Hal 15-16

[17] Shuwaru min Hayatit Tabi’in, Hal. 14

[18] Ibid, Hal. 16

[19] Ibid, Hal. 14

[20] Siyar A’lamu Nubala’, Juz5 Hal. 80

[21] Rahasia Ibadah Generasi Shalih, Hal. 134

[22] Shuwaru min Hayatit Tabi’in , Hal. 20

[23] Shuwaru min Hayatit Tabi’in , Hal.17-21

[24] Ibid, Hal 21

One Response to ATHA’ BIN ABI RABAH

  1. Ping-balik: Atha’ bin Abi Rabah « madinatul islami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: