HUKUM WADL’I

Pengertian Hukum Wadl’i
Hukum wadh’i didefinisikan sebagai firman Allah yang menuntut untuk menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang dari sesuatu yang lain.
Hukum wadh’i adalah ketentuan Allah yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, syarat, mani’ sah fasid, azimah dan rukhshah

Macam-macam Hukum Wad’i
a. Sebab
Menurut bahasa sebab adalah sesuatu yang dapat menyampaikan kepada sesuatu yang lain berarti jalan yang dapat menyampaikan kepada suatu tujuan. Sedangkan menurut istilah sebab adalah sutatu sifat yang dijadikan syar’i sebagai tanda adanya hukum. Menurut ulama ushul, sebab itu harus muncul dari nash, bukan buatan manusia. Pengertian ini menunjukkan sebab sama dengan illat. Walaupun sebnarnya ada perbedaannya.
Contohnya: أقم الصلاة لدلوك الشمس
Artinya: Dirikanlah shalat, karena matahari tergelincir
Ayat tersenut menjelaskan adanya sebab perbuatan mukallaf, dimana tergelincirnya
matahari menjadi sebab wajibnya shalat.
b. Syarat
Yaitu sesuatu yang berada diluar hukum syara’ tetapi keberadaan hukum syara’ bergantung kepadanya. Jika syarat tidak ada maka hukum pun tidak ada. Tetapi adanya syarat tidak mengharuskan adanya hukum syara’.
Contoh: اذا قمتم الى الصلاة فا غسلوا وجوهكم…….
Artinya: Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu….(5:6)
Wudhu yang dibicarakan ayat ini, menjadi “syarat” pelaksanaan shalat . Wudhu adalah salah satu syarat sah sholat. Shalat tidak dapat dilakukan tanpa wudhu, tetapi jika seorang berwudhu tidak harus melaksanakan shalat.
c. Mani’ (penghalang)
Yaitu sifat yang keberadaannya menyebabkan tidak ada hukum atau tidak ada sebab.
Contoh: لا يرث القاتل Artinya: Pembunuh Tidak Mewarisi (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ayat tersebut menjelaskan adanya “penghalang” perbuatan mukallaf. Menurut hadits ini pembunuhan menjadi “penghalang” seorang waris mendapat warisan. Jadi, hubungan suami istri dan hubungan kekerabatan menyebabkan timbulnya hubungan kewarisan. Jika ayah wafat maka istri dan anak mendapat bagian warisan sesuai haknya tetapi jika, istri atau anak membunuh suami atau ayah tersebut maka hak mewarisi bisa terhalang (H.R. Bukhari & Muslim)
Suatu hukum yang akan dikerjakan adalah hukum yang ada sebabnya,terpenuhi syaratnya dan tidak ada penghalang, Sebaliknya hukum tidak ada bila sebab, syaratnya dan penghalang tidak ada. Misalnya shalat zuhur wajib dikerjakan apabila telah tergelincir matahari (sebab), dan telah berwudhuk (syarat) serta tidak ada heidh (penghalang). Jika wanita sedang heidh, maka shalat tidak shah Demikian pula bila matahari belum tergelincir, atau belum berwudhuk, maka Shalatnya tidak shah Salah satu dari tiga unsur itu tidak ada, maka suatu hukum tidak sah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: