MURJI’AH

MURJI’AH

I. Pendahuluan
Alhamdulillahi puji syukur hanya milik Allah swt Rabb semesta alam, pada risalah singkat ini, akan di paparkan secara global tentang Murji’ah, dari pengertiannya kemudian Sejarah Munculnya, Para Tokoh Penggagas Pemikiran ini, Pemikiran-pemikiran nyeleneh mereka Dalam Memaknai Iman, dalil-dalil Yang Digunakan Oleh Kaum Murji’ah Untuk Membenarkan Pemikiran Mereka Serta Bantahan-Bantahanya.
Dalam kubu mereka sendiri terpecah menjadi beberapa sekte, masing-masing berbeda dalam mengartikan makna irja’ di antaranya adalah: Murji’ah Sunnah, Murji’ah Qadariyyah, Murji’ah khawarij dan Murji’ah Kholisoh. dalam pembahasan kali ini penyusun tidak akan membahas satu persatu, namun hanya akan menerangkan bahayanya pemikiran ini bagi Aqidah Salimah yang perlu dijaga agar tidak tercampuri oleh pemikiran sesat, Murji’ahlah salah satunya semoga bermanfaat.
II. Pengertian Murji’ah
Secara Bahasa : Berasal dari kata الإرجاء yang berarti dua makna:
Pertama, ta’khir (mengakhirkan Atau menangguhkan), seperti dalam perkataan seseorang, Arja’tu Kadza, maksudnya adalah, ia ingin mengakhirkan sesuatu. Di sebutkan dalam firman Allah :
قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ
Artinya:” Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beritangguhlah dia dan saudaranya” (Qs. Al A’raf :111). Maksudnya ialah pemuka-pemuka fir’aun ingin bengakhirkannya.
Kedua, I’tha’u Ar-rajaa’ (memberikan harapan) , seperti dalam perkataan seseorang, Arjaitu fulanan, artimya adalah ia ingin memberikan harapan kepada si fulan. Di sebutkan dalam firman Allah :

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:” Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. At Taubah:102)
Secara Istilah : Di ambil dari arti bahasanya yaitu mengakhirkan atau meremehkan. Yang dimaksud adalah mengakhirkan amal yang berkenaan dengan keimanan dan menempatkanya pada kedudukan yang kedua dari iman dengan kata lain tidak menganggap amal bagian dari iman sebagaimana perkataan orang-orang yang mengeklaim bahwa maksiat tidak berpengaruh apapun pada keimanan seseorang begitupula ketaatan tidak bermanfaat apapun bila yang mengerjakannya adalah seseorang yang kafir.
Di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas  berkata: Bersabda Rasulullah  “Dua golongan dari bani adam yang bukan termasuk bagian dari islam, Murji’ah dan qodariyyah”
III. Sejarah Munculnya Dan Para Tokoh Penggagas Pemikiran Murji’ah
Mengenai Sejarah Munculnya Dan Para Tokoh Penggagas Pemikiran Murji’ah ada perbedaan pendapat, sebagian orang berpendapat, yang pertama kali mengenalkan faham irja’ adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib atau yang terkenal bernama Ibnu Hanafiyyah. Ia telah menulis sejumlah kitab yang di sebarluaskan ke berbagai penjuru. Menurutnya, orang yang melakukan dosa besar tidak di hukumi sebagai orang kafir, sebab ketaatan seseorang untuk melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi laranga-Nya bukan termasuk dasar iman. Oleh karena itu, Hilangnya ketaatan seseorang tidak akan menyebabkan hilangnya keimanannya.
Sebagian yang lain berpendapat, yang pertama kali mengenalkan faham irja’ adalah Abu Salat As-Saman (wafat tahun 152 H)
Di riwayatkan pula dari Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, Dari Sulaiman bin Harb, Ia berkata:”Aku pernah menanyakan kepada Abu Wa’il tentang paham Murji’ah…”. Sedangkan Abu Wai’il wafat pada tahun 99 H. pada riwayat yang lain 82 H.
Dari sini, dapat di simpulkan bahwa faham ini sudah ada sejak abad pertama hijriyah.
Sampai kemudian datanglah Al Jahm bin Shofwan yang wafat pada tahun 128 H. Ia berkata:”bahwasanya iman adalah ma’rifah (cukup mengetahui dan beriman kepada Allah swt saja tanpa ada tuntutan lain). Masih banyak lagi tokoh-tokoh mereka yang lain,
IV. Pemikiran Pengikut Faham Murji’ah Dalam Memaknai Iman
Secara garis besar Aqidah Murji’ah dapat di kelompokan sebagai berikut :
1. Pengertian iman adalah hanya meyakini atau mengetahui dalam hati atau ucapan saja.
2. Mereka berkeyakinan bahwa amal bukan termasuk dalam hakikat iman dan tidak termasuk bagian dari iman.
3. Iman tidak dapat bertambah dan berkurang, karena keyakinan pada sesuatu tidak termasuk didalamnya penambahan atau pengurangan.
4. Dari aqidah murji’ah jahmiyah adalah meyakini bahwa yang di maksud kufur kepada Allah adalah dikarenakan ketidak tahuan manusia kepada Allah  sedangkan iman adalah cukup mengetahui Allah  saja.
5. Para pengikut Murji’ah juga mengartikan kata irja’ dengan pengertian menunda hukuman bagi orang yang berbuat dosa besar hingga hari kiamat dan menyerahkannya kepada Allah swt. Dengan kata lain, orang yang berbuat dosa besar tidak akan di hukum di dunia, tetapi di akhirat nanti.

V. Dalil-Dalil Yang Digunakan Oleh Kaum Murji’ah Untuk Membenarkan Pemikiran Mereka Serta Bantahan-Bantahanya
Pengikut Murji’ah berusaha mencari dalil-dalil yang yang dapat membantu dalam membenarkan pemikiran mereka dengan menggunakan nash-nash yang syubhat dan telah keluar dari tujuan nash sebenarnya, mereka menggunakan Al qur’an dan As sunnah An nabawiyah serta berdalih bahwa dari sekian banyak dalil-dalil yang di gunakan, semuanya berkaitan serta membenarkan pemikiran-pemikiran mereka, yang hakekatnya penuh dengan kesesatan.
Pertama, Dari Al qur’anul Karim, mereka berdalil melalui perkataan Allah  :
1. Qs. An Nisa’: 48
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Artinya:” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”
2. Qs. Az Zumar: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَالْغَفُورالرَّحِيمُُ
Artinya:” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
3. Berdasarkan yang dikemukakan oleh Al jahmiyah didalam berbagai nash yang menjadikan keimanan atau kekafiran bertempat pada hati sebagaimana firman Allah  Qs. Al Mujadilah: 22
أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ
Artinya:” Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga”
4. Qs. An Nahl:106
إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ
Artinya:” kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)”
Kedua, Dari As sunnah An nabawiyah, mereka berdalil :
قول الرسول :(من مات يشرك با الله شيئا دخل النار) قال إبن مسعود(من مات لايشرك با الله شيئا دخل الجنة)
Artinya: Sabda Rasul  “Barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah  dengan sesuatu maka ia masuk neraka” Berkata Ibnu Mas’ud ra”Barang siapa yang mati tidak menyekutukan Allah  dengan sesuatu apapun maka ia masuk jannah”
وقوله فيما يرويه عن ربه أنه قال:(يا إبن آدم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيعا لأتيتك بقرابهامغفرة)
Artinya: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman ” Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.”
وقوله (اللهم ثبت قلب علي دينك)
Artinya: Sabdanya  ”Ya Allah tetapkanlah hatiku atas dien-Mu”

وقوله (التقوي ها هنا,ويشير إلي صدره ثلاث مرات)
Artinya: Sabdanya  ” Taqwa itu ada disini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali).”

Demikian dalil-dalil yang digunakan oleh kaum Murji’ah yang mengesampingkan amal dari hakikat keimanan, pemahaman tersebut tidak bisa di benarkan karena hal itu berarti meremehkan amalan-amalan dhohir (yang nampak) dengan amalan-amalan hati, maka menurut mereka beriman dalam hati merupakan pedoman dasar dalam keimanan. Padahal bila di tinjau lebih lanjut bahwa dampak dari suatu keyakinan yang tertancap dalam hati adalah dengan mengamalkanya melalui seluruh anggota badan, sedangkan dalil-dalil di atas secara terang-terangan menunjukan bahwa iman tidak cukup hanya yakin dalam hati saja, namun suatu keimanan tidak bisa nampak pada seseorang manakala ia tidak mengamalkannya dengan seluruh anggota badannya, hal ini menunjukan akan urgennya amal dalam hakikat keimanan, bagi siapa saja yang menolak ideologi ini, maka mereka akan meremehkan suatu hukum sampai pada masalah kefajiran orang-orang yang sudah tidak di ragukan lagi akan kefaajirannya.
Bahkan mereka tidak mengkafirkan seseorang meskipun ia telah mengerjakan kekufuran secara terang-terangan, walhasil selama di dalam hatinya masih mempercayai syariat islam, walau tidak mengamalkannya, bahkan justru mengerjakan amalan-amalan kekafiran maka ia tidak kafir.
Bukti lain dari kesyubhatan aqidah mereka adalah dengan berhukum bahwa barang siapa yang mati sedang ia bertaubat dengan mengucapkan syahadat sebelum matinya, entah ia bermaksiat maupun tidak, maka ia akan mati dalam keadaan bertauhid.
Begitu pula dengan berpegang pada sabda Rosulullah saw:”Taqwa berada di sini (hati)” mereka mengatakan bahwa keimanan dan kekufuran keduanya bersumber dari hati. Makna taqwa yang mereka definisikan apabila tidak di barengi dengan amalan seluruh anggota badan maka bukan taqwa yang sebenarnya .Wallahu A’lam

VI. Daftar Pustaka
1. Al Qur’anul Karim
2. Firaq Muashirah, Ghalib Bin Aly Iwaji, Juz 2
3. Syarah Aqidah Thahawiyyah
4. Ensiklopedia, Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, Dan Gerakan Islam, Dr. Abdullah Mun’im Al-Hafni
5. Syarh Ushul I’tiqad Ahlu sunnah Wal Jama’ah, Al Hasan bin Manshur At Thobari, Juz 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: