KREDIT

KREDIT
1. PENGERTIAN
Jual Beli Kredit dalam bahasa Arabnya disebut Bai’ bit Taqsith yang pengertiannya menurut istilah syari’ah, ialah menjual sesuatu dengan pembayaran yang diangsur dengan cicilan tertentu, pada waktu tertentu, dan lebih mahal daripada pembayaran kontan/tunai. (Lisanul ‘Arab, vol VII/377-378)
Dalam pengertian syar’i adalah: pedagang yang menjual suatu barang yang jika di bayar tunai harganya sekian,n jika di bayar secara kredit atau angsuran maka harganya sekian, yakni lebih tinggi dari harga yang pertama.
Jual beli kredit dalam fiqih dikenal dengan istilah al-bai` bi ad-dain atau al-bai` bi at-taqsith, atau al-bai’ li-ajal. Semuanya berarti jual beli dengan penyerahan barang pada saat akad, tapi pembayarannya dilakukan secara tertunda. Pembayaran tertunda ini dapat dilakukan sekaligus pada satu waktu, atau dicicil (diangsur) dalam beberapa kali cicilan (tidak dibayar sekaligus dalam satu waktu). (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Mu’amalah Al-Maliyah Al-Muashira
2. HUKUM JUAL BELI KREDIT

Dalam jual beli kredit umumnya penjual menetapkan harga kredit yang lebih mahal daripada harga kontan (cash). Misalnya, penjual menetapkan harga sebuah sepeda motor seharga Rp 10 juta jika dibayar kontan, dan Rp 12 juta jika dibayar kredit dalam jangka waktu tertentu. Dalam jual beli kredit ini penjual seringkali menetapkan uang muka. Dengan ketentuan, jika jual beli jadi, uang muka akan dihitung sebagai bagian harga.
Jumhur fuqaha seperti ulama mazhab yang empat (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, Hanabilah) membolehkan jual beli kredit, meski penjual menjual barang dengan harga kredit yang lebih mahal daripada harga kontan. Inilah pendapat yang kuat (rajah). (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Mu’amalah Al-Maliyah Al-Muashirah, hal. 316, Asy-Syaukani, Nailul Authar, 8/199; An-Nabhani
Dalil kebolehannya adalah keumuman dalil-dalil yang telah membolehkan jual beli, misalnya QS Al-Baqarah : 275 (artinya),”Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Juga berdasar sabda Nabi SAW,”Sesungguhnya jual beli itu adalah atas dasar saling ridha.” (Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Fatawa (29/499)
Kata “jual beli” ini bersifat umum, mencakup jual beli kredit. Diriwayatkan bahwa Thawus, Al-Hakam, dan Hammad berkata bahwa tidaklah mengapa kalau penjual berkata kepada pembeli,’Aku jual kontan kepadamu dengan harga sekian, dan aku jual kredit kepadamu dengan harga sekian,’ lalu pembeli membeli dengan salah satu dari dua harga itu.
Adapun mengenai uang muka (DP), hukumnya boleh. Karena ada riwayat bahwa Umar bin Khaththab pernah membeli rumah dari Shofwan bin Umayyah dengan harga 4000 dirham, dengan ketentuan jika Umar rela, maka jual beli dilaksanakan dengan harga tersebut. Jika Umar tidak rela (tidak jadi beli), Shofwan berhak mendapat 400 dirham (10 % dari harga).

3. HUKUM JUAL BELI KREDIT LEWAT PIHAK KETIGA (kredit bank dan leasing)

Misalnya kita anggap kalau harga motor adalah Rp. 15.000.000,- secara cash. Sedangkan secara kredit adalah Rp. 18.000.000,-. Jadi, kemungkinan yang terjadi, bank atau leasing telah menghutangi pada pembeli motor sejumlah Rp.15.000.000,- dan dalam waktu yang sama bank langsung membayarkannya ke dealer, tempat pembelian motor. Kemudian bank akhirnya menuntut pembeli ini untuk membayar piutang tersebut sejumlah Rp.18.000.000.
Ini adalah akad riba karena bank atau leasing menghutangi Rp.15.000.000,- kemudian minta untuk dikembalikan lebih banyak sejumlah Rp.18.000.000,-. Ini jelas-jelas adalah riba. Hukumnya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah lewat, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba orang yang menyerahkan riba, pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama(HR.Bukhari fathul bari/V:4/H:394/bab:24).
Karena bank atau leasing telah membeli motor tersebut dari dealer dan menjualnya kembali kepada pembeli. Berarti bank telah menjual motor yang ia beli sebelum ia pindahkan dari tempat penjual (dealer) dan ini berarti bank telah menjual barang yang belum sah ia miliki atau belum ia terima. Di antara bukti hal ini adalah surat menyurat motor semuanya ditulis dengan nama pembeli dan bukan atas nama bank.
Jadi, yang terjadi adalah jual beli rupiah dengan rupiah, sedangkan motornya ditunda. Dengan demikian penjualan dengan cara seperti ini tidak sah karena termasuk menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.
Kesimpulanya adalah perkreditan dengan cara ini adalah salah satu bentuk akad jual beli yang haram. Karena ini termasuk praktek menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.
Larangan di atas memiliki dasar dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Bukhari “janganlah kalian menjual barang yang bukan miliknya.”(HR.Bukhari 2136,hal:439)
Hal ini diterangkan dalam hadits lain. Dari Thowus, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli bahan manakan hingga barang tersebut telah diserahterimakan.”Thowus mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Kenapa bisa demikian?”Beliau pun mengatakan, “Sebenarnya yang terjadi adalah jual beli dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (HR. Bukhari) [Bukhari: hadist-2132 Kitabul Buyu’, Bab-54, hal: 437 Masalah Jual Beli Bahan Makanan dan Barang yang Ditimbun)
Solusinya Alangkah baiknya jika kita sebagai seorang muslim tidak melakukan praktek jual-beli semacam ini. Lebih baik kita membeli barang secara cash atau meminjam uang dari orang lain (yang lebih amanah, tanpa ada unsur riba) dan kita berusaha mengembalikan tepat waktu. Itu mungkin jalan keluar terbaik.

4. HUKUM DUA TRANSAKSI DALAM SATU TRANSAKSI JUAL BELI

Jumhur kalangan ahli fikih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan imam-imam mujtahid berpendapat bahwa dua transaksi dalam satu transaksi jual beli adalah batal. Hanya sebagian kecil saja yang berpendapat sahnya dua transaksi dalam satu transaksi jual beli, sepeti Thawus, Al Hakam, Hammad.h Sekalipun demikian pendapat ketiganya tidak terlepas dari pengertian : ”Apabila setelah akad kedua belah pihak yang bertransaksi ada hal yang menunjukan kesepakatan pada salah satu harga. Seolah-olah setelah kedua harga di sebutkan pembeli berkata kepada penjual “Aku pilih harga tunai” atau “Aku pilih harga kredit” kemudian penjual berkata “Saya sahkan” atau “Saya terima”dengan demikian tidak ada perbedaan pendapatantara jumhur dengan ketiga ulama’ini.
Pada hal ini ulama’berbeda pendapat dalam menafsirkan Qs.Al Baqarah:275. Allah swt berfirman:” Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”
Pertama, berpendapat haram karena jual beli yang mengambil tambahan sebab penundaan pembayaran. karena jual beli sepeti ini masuk dalam konteks riba.
Kedua, berpendapat halal karena mereka berpegang pada keumuman ayat-ayat yang menetapkan kebolehan jual beli secara kredit. (Abu Malik Kamal Bin As-Sayyid Salim, Sahih Fikih Sunnah,hal: 564,570)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: