TARIKH TASYRI’ MASA KHULAFA’UR RASYIDIN

TARIKH TASYRI’
MASA KHULAFA’UR RASYIDIN

Pada masa ini, fiqh mulai berkembang, karena banyaknya bangsa asing yang masuk ke arab dan banyak terjadi kejadian yang tidak didapati pada zaman nabi  diantara sebabnya adalah sebagai berikut:
1. Banyaknya peperangan-peperangan
2. Gencarnya futuhat islamiyah, menyebar luaslah kekuasaan islam, memicu timbulnya berbagai macam permasalahan baru, sehingga berijtihadlah para sahabat dengan Ro’yu (akal) mereka, dengan mengedepankan kaidah-kaidah baku yang mendukung dalam pemecahan masalah fiqhiyah pada masa itu.
Metode ijtihad yang di gunakan para sahabat pada masa itu adalah :
1. Kitabullah 
2. Sunnah rosulullah 
3. Ijtihad bi ro’yi secara jama’iy dan secara fardy, namun secara fardy jarang di lakukan.
Adapun ijtihad, berlaku apabila para sahabat termasuk khalifah sendiri tidak mendapati kesimpulan hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Contoh metode Abu Bakar  dalam berijtihad adalah dengan cara menanyakan kepada majlis syuro (sekelompok sahabat yang ditunjuk khalifah bertugas untuk membahas permasalahan-permasalan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya) apabila setuju pada satu kesimpulan hukum maka di namakan Ijma’, sebagaimana yang telah berlaku pada masa nabi . Namun apabila dalam perumusan hukum terdapat suatu perselisihan, maka semua pihak yang bersangkutan dalam majlis syuro ini menyepakati pendapat yang paling rojih dan bisa di jadikan sandaran untuk berijtihad. Begitu pula Umar bin Khotob  beliaupun menggunakan metode ini untuk berjtihad.
Maksud dari ijtihad bi ro’yi adalah, Ibnu Qoyim rohimahullah berkata :”sesuatu yang di katakan hati setelah berfikir dan mendalami serta mengharap di tunjukan pada kebenaran dari sesuatu yang di perselisihkan. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Ro’yul Qolbi adalah suatu yang ghoib yang dapat di terima oleh akal, namun semua itu di perlukan tinjauan yang mendalam serta memperhitungkannya.

BENTUK IJTIHAD PADA MASA KHULAFA’UR RASYIDIN

1. Penolakan Umar bin Khotob  mengenai orang yang termasuk (mu’alafati qulubuhum) karena muslimin pada waktu itu sudah tidak membutuhkan anggota baru lagi, berbeda ketika menyikapi mualaf pada perang Hunain.
2. Ijtihad Umar bin Khotob  tentang pencuri (budak Hatim bin Abi batah yang tidak di potong tanganya sebab empat perkara yang menghalanginya :
a. pencurinya adakah seorang anak kecil yang belum baligh
b. Harta yang di curinya belum mencapai nishob (1/4 Dinar : Rp.300.000)
c. Yang di curi adalah tetangganya yang kaya raya, yang tidak mendermakan hartanya kepada faqir miskin sebagai mana semestinya
d. Pada waktu itu sedang menghadapi musim paceklik

3. Ijtihad khulafa’ur rasyidin tentang peristiwa unta yang tidak bertuan
-Abu Bakar dan Umar bin Khotob  berijtihad, unta tersebut di biarkan saja
-Ali bin Abi thalib  berijtihad, unta tersebut di buatkan kandang, lalu akomodasinya di serahkan kepada baitul mal untuk menanganinya, sampai si pemilik onta datang dan mengambilnya
-Usman bin Affan  berijtihad, unta tersebut di jual sebagaimana harga umumnya, lalu uangnya di kenbalikan kepada si pemilik onta
4. Ijtihad Umar bin Khotob tentang hukum Thalak
Umar bin Khattab berfatwa bahwa: wanita yang dicerai putus (Thalak Bain) itu, mendapat nafkah dan tempat tinggal. Ketika sampai pada hadis Fathimah binti Qais bahwasanya Rasulullah tidak memberikan nafkah dan tidak pula tempat tinggal baginya setelah perceraian yang ketiga, maka ia berkata: kita tidak meninggalkan kitab Tuhan dan Sunnah Nabi kita karena perkataan seorang perempuan yang barangkali ia hafal atau lupa

Contoh ijtihad kembali di kemukaan oleh para sahabat antara lain :
-Umar bin Khotob berijtihad tentang jari jemari pada tangan itu sama……………………….
-Ibnu Abbas berijtihad tentang iddahnya seorang wanita yang di tinggal mati oleh suaminya sedang ia sedang dalam keadaan hamil, maka yang harus di lakukan oleh wanita tersebut adalah:
 Menunggu kehamilannya (melahirkan)
 Menunggu sampai masa iddah ditinggal mati suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari
ijtihad Ibnu Abbas adalah memilih masa iddah yang paling lama, di hitung dari sejak kematian suaminya. Namun pendapat yang paling rojih adalah berdasarkan hadist Sabi’ah Aslamiyyah, yaitu Iddahnya menunggu sampai melahirkan. Baru ia boleh di nikahi kembali, karena fungsi iddah sendiri adalah kapan ia bisa dinikahi kembali.

SEBAB-SEBAB PERBEDAAN IJTIHAD PARA SAHABAT

1. Sebagian sahabat sudah mengetahui suatu hadist sedangkan yang lainnya belum
2. Belum adanya penulisan sunnah pada masa itu
3. Perbedaan pemahaman dalam memahami suatu nash
4. Tidak adanya nash, sehingga menuntut untuk memberlakukan Qiyas, mengambil maslahah dan sadud daro’i

7 SAHABAT YANG PALING BANYAK BERIJTIHAD

Umar bin Khotob, Ali bin Abi thalib, Abdullah bin Mas’ud, Aisyah, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin abbas, Abdullah bin Umar

ADAPUN YANG MUTAWASITH (PERTENGAHAN) ADALAH : Abu Bakar As Shidiq, Utsman bin Affan, Abu Mus’ab Al Asy’ari, Sa’ad bin Abi Waqos, Salman Al Farisy, Dan yang lainnya

Pada masa ini pula Abu Bakar  memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit  untuk membukukan Al Qur’an mnjadi Mushaf Wahid, di karenakan banyaknya Qori’ yang terbunuh dalam peperangan dan mengantisipasi tercampurnya Ayat dengan Hadist yang mana pada masa ini Hadist belum dibukukan.
Wallahu A’lam Bishowab

2 Responses to TARIKH TASYRI’ MASA KHULAFA’UR RASYIDIN

  1. izzad amir mengatakan:

    syukran…
    sangat membantu saya…

  2. Noer mengatakan:

    Sukron, mohon izin untuk copas…sebagai refernsi tugas..jazakallah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: